Brachiaria mutica (Bahasa Indonesia)


Nama latin

Brachiaria mutica (Forssk.) Stapf

Diskripsi tanaman

Rumput merambat dengan stolon panjang besar sampai 5 m, sangat berbulu, batang merambat dan lunak, daun berbulu sedang panjang sekitar 30 cm dan lebar 20 mm. Tangkai bunga panjang 6-30 cm, terdiri atas 5-20 kelompok bunga yang padat.

Penggunaan/pemanfaatan

Biasanya digunakan pada lingkungan pengairan buruk atau curah hujan tinggi. Juga digunakan sebagai hijauan potong angkut. Dapat dipotong untuk dijadikan "hay " tetapi biasanya lambat kering pada lingkungan lembab dimana tanaman ini tumbuh. Pada daerah basah, tanaman ini dapat digunakan sebagai cadangan pakan musim kering. Rumput Para akan tumbuh di air 1,2 m di daerah tropis.

Ekologi

Persyaratan tanah

Tumbuh dengan baik pada jenis tanah yang beragam. Cocok untuk lahan berpengairan buruk di daerah tropis dan daerah subtropis yang lebih hangat, tetapi juga beradaptasi baik pada tanah tanpa pengairan di lingkungan curah hujan tinggi.

Air

Daerah lembab dan semi lembab dengan 1200-4000 mm curah hujan tahunan. Juga dapat tumbuh pada daerah rawa pada lingkungan lebih kering sampai 900 mm curah hujan tahunan, tetapi tidak tahan kondisi kering panjang. Rumput Para dapat bertahan genangan jangka panjang.

Suhu

Tumbuh hanya pada musim yang hangat, dengan pertumbuhan dibatasi oleh suhu dibawah 15oC. Sangat rentah suhu beku. Daun mati bila terkena suhu beku tetapi tanaman dapat ulih kembali.

Cahaya

Daya tahan sedang terhadap naungan tetapi lebih suka penyinaran matahari penuh.

Perkembangan reproduksi

Dilaporkan sebagai spesies tanaman dengan panjang hari pendek yang berbunga lebih banyak pada lingkungan lembab pada lintang 10-20o.

Penggembalaan/pemotongan

Top

Dibawah kondisi pemotongan yang konstan, rumput para dapat menjadi korban spesies tanaman yang menyerang (gulma daun lebar dan Teki dan Sida spp). Tinggi rumpun harus dipertahankan sekitar >20 cm untuk mencegah pertumbuhan gulma. Tekanan penggembalaan sedang mungkin diperlukan untuk mengurangi pembentukan biji dan mempertahankan kualiats hijauan pada lingkungan yang sangat produktif.

Agronomi

Penanaman

Dapat ditanam dengan mudah dari bagian vegetatif, ditanam sedalam 10-15 cm. Bagian yang ditanam ini mestinya sepanjang 25-30 cm dengan 3-4 buku, dan paling tidak 2 buku harus masuk didalam tanah yang basah. Tanaman yang tumbuh akan membentuk akar  pada buku-bukunya. Biasanya menghasilkan ada biji.

Spesies pasangan

Rumput: Echinochloa polystachya , Hymenachne amplexicaulis .

LegumeMacroptilium lathyroides , Aeschynomene americana. Pada tanah tanpa pengairan; Pueraria phaseoloides , Centrosema molle , Neonotonia wightii Calopogonium mucunoides mungkin akan bertahan tumbuh karena palatabilitas yang rendah.

Nilai pakan

Nilai nutrisi

Top

Suatu rumput yang bernilai nutrisi tinggi, konsumsi bahan kering oleh ternak yang menggembala mungkin akan dikurangi oleh kandungan air yang tinggi. Tanaman yang tumbuh aktif memiliki nilai nutrisi yang tinggi, dengan PK 14-20%, dan Kecernaan bahan kering in vitro (IVDMD) 65-80% untuk bagian daun tanaman dan 55-65% untuk seluruh bagian pucuk. Kualitas akan menurun seiring dengan makin menuanya tanaman.

Palatabilitas/kesukaan

Daun sangat disukai dan dimakan ternak dengan selektif. Stolon dan batang yang tua akan kurang disukai (palatabilitas berkurang) tetapi akan dimakan ternak bila tidak ada pakan lain tersedia.

Potensi produksi

Bahan kering

Produksi BK biasanya 5-12 ton/ha/tahun.

Produksi ternak

Dalam daerah kondisi basah atau dengan irigasi, kenaikan berat badan sekitar 300-800 kg/ha/tahun telah dilaporkan, dimana ternak muda memperoleh kenaikan antara 0,8-1 kg/ekor/hari dengan tingkat penggembalaan sampai 3 ekor ternak per hektar.

Produksi biji

Top

Produksi biji rendah sekitar 10-30 kg/ha dengan panen mesin atau panen tangan.

Keunggulan

  • Tumbuh baik pada daerah rawa, tergenang air.
  • Mendukung produksi tinggi untuk ternak ruminansia.
  • Menyebar dengan cepat melalui stolon.
  • Daun muda sangat disukai.

Keterbatasan

  • Tidak tahan kekeringan.
  • Sensitif terhadap suhu dingin.
  • Kecocokan dengan legum rendah.
  • Berpotensi menjadi gulma bila tidak dimakan ternak.

Pustaka pilihan

Mullen, B.F. and MacFarlane, D.C. (1998) The effect of band-seeding legumes into para grass (Brachiaria mutica ) on pasture production, sustainability and animal productivity in Vanuatu. Tropical Grasslands, 32, 34–40.
Schultze-Kraft, R. and Teitzel, J.K. (1992) Brachiaria mutica (Forssk.) Stapf. In: t’Mannetje, L. and Jones, R.M. (eds) Plant Resources of South-East Asia No. 4. Forages. pp. 64–65. (Pudoc Scientific Publishers, Wageningen, the Netherlands).
Shiva Dhar, Gupta, S.D., Singh, A. and Arya, R.L. (2001) Performance of grasses with cutting management under seasonal waterlogged conditions. Indian Journal of Agricultural Sciences, 71, 698–700.
Tiwari, C.M., Tiwari, D.P. and Jain, R.K. (2001) Nutritional evaluation of para grass (Brachiaria mutica ) in goats. Cheiron, 30, 38–39.
Xavier, D.F., Carvalho, M.M. and Botrel, M.A. (2002) Characteristics and potentials of Brachiaria pastures for milk production. Características e potencialidades de pastagens de braquiárias para produção de leite. Documentos - Embrapa Gado de Leite (No. 87).

Kaitan Internet