Calliandra calothyrsus (Bahasa Indonesia)


Nama latin

Diskripsi tanaman

Legum pohon tahunan tinggi 2-12 m. Daun bersirip dua dengan tangkai sepanjang 10-19 cm. Bunga membentuk kelompok tandan. Tangkai putik berwarna merah yang banyak sepanjang 4-6 cm. Bentuk buah lebar linear, pipih, ukuran 8-11 cm x 1,0 cm dengan pinggiran tebal dan menaik dengan 8-12 biji. Biji membentuk ellip, pipih, panjang 5-7 cm dan berwarna coklat tua.

Penggunaan/pemanfaatan

Spesies tanaman multiguna ditanam utamanya untuk hijauan pakan suplemen bagi pakan kualitas rendah yang diberikan pada ruminansia. Juga digunakan sebagai pupuk hijau, tanaman pelindung bagi kopi dan teh, untuk memperbaiki tanah dan menahan erosi. Digunakan sebagai sumber serbuk sari bagi produksi madu. Juga sangat penting di sebagain Afrika (seperti Uganda, Rwanda) sebagai panjatan bagi tanaman kacang-kacangan.

Sumber kayu bakar yang sangat baik, kayu kaliandra kering sangat cepat (batang kecil kering satu hari) dan terbakar dengan baik tanpa asap.

Ekologi

Persyaratan tanah

Tumbuh baik pada berbagai jenis tanah mulai dari tanah loam vulkanik dalam sampai tanah liat metamorfik yang lebih asam. Secara alami tumbuh baik pada tanah vulkanik sedikit asam dengan tekstur ringan. Beradaptasi dengan baik pada tanah asam tidak subur tetapi akan memerlukan pupuk pada tanah seperti ini.

Tidak tahan terhadap kondisi tanah tergenang, dan tidak dapat tumbuh baik pada tanah calcareous dengan pengairan buruk.

Air

Pada daerah asalnya, tanaman ini tumbuh pada curah hujan tahunan sekitar 700-3000 mm dengan 1-7 bulan kering. Sangat tidak tahan genangan dan sangat tidak tahan kering. Selalu menghijau pada iklim lembab tetapi semi menggugurkan daun di daerah dengan musim kering yang panjang.

Dengan lokasi yang bagus, tumbuh paling baik pada ketinggian 250-1300 m dengan curah hujan tahunan sekitar 2000-4000 mm dengan 3-6 bulan musim kering.

Suhu

Tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian dari 0-1850 m dari permukaan laut (dpl). Suhu rata-rata bulanan maksimum sekitar 24-28oC, dan rata-rata suhu minimum sekitar 18-24oC. C. calothyrsus rentan terhadap suhu sangat dingin (beku) tetapi spesies tropis memiliki daya tahan cukup terhadap dingin, tumbuh alami sampai ketinggian 1800 m dpl di Guetemala dan dengan bagus sampai ketinggian 2000 m dpl di Indonesia dan Kenya.

Cahaya

Tidak tahan terhadap naungan berat. Di Uganda dan Tanzania digunakan pada sistem kebun rumah dimana tanaman ini ditanam dibawah pisang dengan naungan sedang.

Perkembangan reproduksi

Berbunga sepanjang tahun bila di tanah mengandung kadar air yang cukup, tetapi terutama pada akhir musim hujan. Pembungaan akan terhenti selama musim kering yang panjang (>4 bulan). Secara dominan terjadi perkawinan silang. Penyerbukan diperoleh dengan bantuan kupu-kupu besar dan kelelawar.

Penggembalaan/pemotongan

Top

Tergantung pada penggunaan. Pemotongan pertama 8-12 bulan setelah tanam. Untuk produksi daun maksimum, potong pada ketinggian 0,5-1 m setiap 2-3 bulan. Tidak berakar dalam dan tahan kering seperti Leucaena leucocphala. Untuk menghindari kehilangan daun pada musim kering, potonglah pada akhir musim hujan.

Calliandra umumnya direkomendasikan untuk pakan potong angkut ketimbang digunakan sebagai tanaman penggembalaan langsung. Penggembalaan langsung oleh sapi, domba dan kambing menyebabkan tingkat kematian yang tinggi pada tanaman.

Agronomi

Penanaman

Biji memerlukan skarifikasi seperti merendam biji dalam air dingin selama 48 jam. Penggunaan air panas berisiko membunuh biji akibat suhu tinggi yang berlebihan. Skarifikasi secara mekanis juga dapat dilakukan. Penanaman dapat dilakukan dengan cara semai langsung biji yang telah diskarifikasi pada kedalaman 1-3 cm atau dengan pindah tanam bibit yang telah setinggi 20-50 cm yang telah ditumbuhkan pada tempat pembibitan. Bibit dapat ditanam berbaris dengan jarak tanam 3-4 m, atau pada penggunaan sebagai sumber pakan ditanam dengan jarak 0,5-1 m secara menyebar. Penggunaan inokulasi mungkin bermanfaat pada daerah baru ditanamai. Pertumbuhan awal lambat tetapi pertumbuhan selanjutnya sangat cepat dan pohon dapat mencapai tinggi 3,5 m dalam 6 bulan. Tidak dapat tumbuh baik bila dipotong.

Spesies pasangan

Rumput: telah ditanam sebagai baris dalam padang penggembalan rumput Brachiaria decumbens , dan Stenotaphrum secundatum .

Biasanya ditanam sebagai tanaman baris sepanjang pagar dan batas padang penggembalaan, atau terintegrai dalam sistem kebun dimana tanaman ini ditanam dengan berbagai jenis tanaman pangan. Digunakan sebagai tanaman pelindung pada perkebunan kopi dan tea.

Nilai pakan

Nilai nutrisi

Top

Kecernaan in vitro dari daun kering berkisar dari 24-47%. Variasi juga terjadi pada konsentrasi tannin (condensed tannin /CT) sekitar 1,5-19,4%. Beberapa studi melaporkan imbangan nitrogen negatif disebabkan karena tingginya derajat suplementasi daun kaliandra. Diatas semua ini, produksi ternak yang memadai diperoleh ketika kaliandra telah diadopsi sebagai suplemen pada ransum dasar berkualitas rendah atau sebagai ransum dasar atau pengganti sebagian bagi pakan konsentrat. Sumber vitamin karoten yang baik.

Palatabilitas/kesukaan

Daun kaliandra yang dipanen segar biasanya sangat disukai ternak ruminansia meskipun terdapat beberapa masalah yang berkaitan dengan palatabilitas telah dilaporkan dari Meksiko dan Amerika Tengah. Kultivar tanaman memiliki variasi dalam palatabilitas. Palatabilitas secara signifikan berkurang ketika daun layu atau kering tetapi pada jumlah pemberian normal (20-40%), pelayuan atau kering tidak akan mempengaruhi konsumsi.

Potensi produksi

Bahan kering

Produksi BK sekitar 3-14 ton/ha/tahun, tergantung pada iklim dan kesuburan tanah. Di Indonesia, di Bandung dan Madiun tanaman ini berhasil dengan baik sebagai tanaman multiguna, menghasilkan kedua-duanya baik daun maupun kayu.

Produksi ternak

Biasanya digunakan untuk meningkatkan pemanfaatan rumput-rumput kualitas rendah atau sebagai pengganti pakan konsentrat. Di Indonesia, kenaikan berat badan domba meningkat dari 26 sampai 52 g/hari ketika tingkat pemberian daun kaliandra segar ditambahkan dari 0 menjadi 35% dari ransom total.

Tidak sesuai sebagai pakan ternak monogastrik karena tingginya tingkat endapan tannin (CTs). Dalam jumlah kecil mungkin dapat diberikan pada ayam dalam bentuk tepung daun, kandungan karoten menyebabkan warna kuning telur kuning tua dapat meningkatkan nilai jual dari telur.

Produksi biji

Top

Jenis tanaman/kultivar berbeda seharusnya dipisahkan paling tidak sejauh 2 km untuk menghindari penyerbukan silang. Untuk produksi biji maksimum, pohon mestinya diberikan jarak yang cukup dengan luasan 9-16 m2/pohon. Pangkas pohon sekitar 1 m menjelang musim hujan untuk merangsang pembungaan. Produksi biji biasanya rendah pada tahun pertama produksi.

Strategi panen tunggal akan menyebabkan kehilangan biji karena pecah awal dari buah polong, atau banyaknya biji yang tidak masak. Kain terpal dapat diletakkan dibawah pohon untuk mengumpulkan biji yang jatuh.

Keunggulan

  • Tanaman multiguna.
  • Cedpat kering, kayu bakar kualitas tinggi untuk memasak.
  • Tumbuh dengan baik pada tanah asam sedang dan lingkungan dataran tinggi tropis.
  • Sangat produktif pada daerah basah tropis dan lokasi dataran tinggi tropis.

Keterbatasan

  • Kecernaan in vivo dan kualitas hijauan rendah karena konsentrasi endapan tannin yang cukup tinggi.
  • Tidak dapat digembalai lansung oleh ternak ruminansia.
  • Tidak cocok untuk ternak monogastrik.

Pustaka pilihan

Chamberlain, J.R. (2001) Calliandra calothyrsus : An agroforestry tree for the humid tropics. Oxford University Press, UK.

Evans, D.O. 1996. (ed) Proceedings of the International Workshop on the Genus Calliandra. Forest, Farm and Community Tree Research Reports (Special Issue). Winrock International, Morrilton, Arkansas, USA.

Palmer, B. and Jones, R.J. (2000) The effect of PEG addition in vitro on dry matter and nitrogen digestibility of Calliandra calothyrsus and Leucaena leucocephala leaf. Animal Feed Science and Technology, 85, 259-268.

Paterson, R.T. Kiruiro, E. and Arimi, H.K. (1999) Calliandra calothyrsus as a supplement for milk production in the Kenya Highlands. Tropical Animal Health and Production, 31, 115-126.

Wiersum, K.F and Rika, I.K. (1992) Calliandra calothyrsus Meissn. In: 't Mannetje, L. and Jones, R.M. (eds) Plant Resources of South-East Asia No. 4. Forages. pp. 68-70. (Pudoc Scientific Publishers, Wageningen, the Netherlands).
 

Kaitan Internet