Nama latin
|
|
|
Diskripsi tanaman
|
Tanaman tahunan berumur pendek, tanaman semusim yang beregenerasi sendiri tinggi sekitar 1 m. Helai daun setengah lingkaran sampai bulat lebar dengan panjang 12-38 mm, lebar 5-25 mm. Bunga 1-2 (-3) axillary, kecil kuning. Buah polong linear, panjang 20-45 mm. Biji segi empat dengan 200.000-470.000 biji/kg.
|
Penggunaan/pemanfaatan
|
Ditanam pada padang gembala buatan dan alam untuk meningkatklan kualitas pakan. Bernilai terbatas untuk konservasi karena daun akan gugur pada kondisi kering. Telah berhasil digunakan sebagai tanaman potong angkut di Cina selatan, dan digunakan sebagai tanman penyela atau fase legum dalam sistem tanaman-ternak di Nigeria dimana penggunaannya mengakibatkan meningkatnya produksi tanaman biji-bijian (sereal).
|
Ekologi
|
Persyaratan tanah
|
Tanah ringan bebas genangan dengan kesuburan rendah sampai sedang. Hampir semua jenis tanaman ini dikoleksi dari tanah yang asam. Beradaptasi sangat baik pada tanah merah tidak subur di Cina selatan.
|
Air
|
Tanaman tahunan (perennial) pada curah hujan 900-1500 mm; dan sebagai tanaman semusim dengan curah hujan yang lebih rendah. Tidak tahan terhadap pengairan yang buruk atau banjir. Cukup tahan terhadap kekeringan ketika tanaman membentuk rosettes dibawah penggembalaan yang berat, tetapi seringkali berubah menjadi merah dan gugur bila tanaman tidak digembalai dan tumbuh tinggi selama kondisi kekeringan.
|
Suhu
|
Tumbuh musim hangat dengan daun akan mati bila terkena suhu beku. Terdapat perbedaan besar diantara tipe tanaman ini dalam daya taha terhadap musim dingin di daerah subtropis Cina (26-29ºS). Hanya tipe yang berasal dari ujung selatan paling jauh dapat bertahan hidup (Paraguay dan Argentina).
|
Cahaya
|
Perlu sinar matahari penuh dan naungan sedang.
|
Perkembangan reproduksi
|
Kultivar Wynn berbunga lebih awal. Tanaman dari dataran rendah cenderung untuk berbunga lebih lambat dan tinggi, sedangkan tanaman dataran tinggi berbungan lebih awal dan lebih rendah. Hasil biji dapat mencapai sekitar 1000-1200 biji/m2.
|
Penggembalaan/pemotongan
|
Top |
Sangat tahan terhadap penggembalaan berat yang konstan, akan tetapi, bila dibiarkan tumbuh tinggi kemudian dipotong pendek, tanaman gagal untuk tumbuh kembali, tetapi populasi tanaman akan tumbuh kembali dari biji.
|
Agronomi
|
|
|
Penanaman
|
Meskipun telah dilaporkan tingginya jumlah biji yang dorman, biji yang dipanen menggunakan mesin jarang memerlukan skarifikasi. Biji tidak boleh direndam air panas untuk memecahkan dormansi. Tampaknya langsung membentuk nodul dengan rhizobia alami.
|
Spesies pasangan
|
|
|
Nilai pakan
|
Nilai nutrisi
|
Top |
Kandungan protein dan kecernaan yang baik ketika digembalai. Penanaman pada tanah defisiensi P dan S di Queensland selatan meningkatkan kandungan N pada daun menjadi 3,3%. Cassia "Wynn" meningkatkan kadar N dari rumput alam (Heteropogon contortus ) yang ditanam bersama sekitar 20-40% dengan penggembalaan dan pemupukan (dengan P dan S).
|
Palatabilitas/kesukaan
|
Biasanya tidak tidak siap dimakan ternak pada musim tumbuh dibawah curah hujan yang lebih tinggi, tetapi menjadi lebih diterima ketika rumput yang tumbuh bersama menjadi lebih tua di akhir musim. Dapat mencapai sekitar 20% dari ransum pada akhir musim gugur. Tidak ada masalah dengan cassia "Wynn" yang tumbuh di daerah yang lebih kering (<900 mm) kecuali dewasanya terlambat, tanaman jenis yang tinggi mungkin saja ditolak ternak. Tidak dimakan oleh kuda.
|
Potensi produksi
|
Bahan kering
|
Produksi bahan kering sekitar 7000 kg/ha dilaporkan di Queensland tenggara.
|
Produksi ternak
|
Di Australia, penyemaian dalam jumlah besar kultivar "Wynn" pada rumput alam Heteropogon contortus meningkatkan kenaikan berat badan/ekor ternak pada tingkat penggembalaan 2,4 ekor/ha sampai sekitar 34 kg kg/tahun (peningkatan 40%) atau sekitar 45 kg/tahun ketika dipupuk dengan P dan S.
|
Produksi biji
|
Top |
Melepaskan biji sangat banyak, tetapi biji masak butuh waktu lama dan kemudian pecah menyebar. Hasil panen seikitar 800 kg/ha telah diperoleh pada panen dengan mesin penyedot di Australia.
|
Keunggulan
|
- Penanaman dan penyebaran cepat.
- Kebutuhan pupuk rendah.
- Beradaptasi pada tanah asam.
- Produksi biji tinggi.
|
Keterbatasan
|
- Palatabiltas rendah.
- Tidak tahan kekeringan bila tidak digembalai.
- Rentan terhadap anthracnose pada padang sabana di Amerika Selatan.
|
Pustaka pilihan
|
- Hacker, J.B., Wen Shilin, Ying Zhaoyang and Pengelly, B.C. (2001) Selecting Chamaecrista spp. for stabilisation and forage in southern China. Tropical Grasslands, 35, 96-113.
- Jones, R.M. (1992) Chamaecrista rotundifolia (Persoon) Greene. In: 't Mannetje, L. and Jones, R.M. (eds) Plant Resources of South-East Asia No. 4. Forages. pp. 88-89. (Pudoc Scientific Publishers, Wageningen, the Netherlands).
- Lenne, J.M. and P. Trutmann, P. (1994) (eds) Diseases of Tropical Pasture Plants. (CABI, Wallingford, UK).
- Partridge, I.J. and Wright, J. (1992) The value of round-leafed cassia (Cassia rotundifolia cv. Wynn) in a native pasture grazed with steers in south-east Queensland. Tropical Grasslands, 26, 263-269.
- Pengelly, B.C., Maass, B.L., Thomas, B.D. and Hacker, J.B. (1997) Origin of the world's collection of the tropical forage legume Chamaecrista rotundifolia . Proceedings of the VXIII International Grassland Congress, 8-19 June 1997, Winnipeg, Manitoba, and Saskatoon, Saskatchewan, Canada, vol. 1(1), 25-26.
- Strickland R.W., Greenfield, R.G., Wilson, G.P.M. and Harvey, G.L. (1985) Morphological and agronomic attributes of Cassia rotundifolia Pers., C. pilosa L., and C. trichopoda Benth., potential forage legumes for northern Australia. Australian Journal of Experimental Agriculture, 25, 100-108.
- Tarawali, S.A. (1994) The yield and persistence of selected forage legumes in subhumid and semi-arid west Africa. Tropical Grasslands, 28, 80-89.
- Tarawali, S.A. (1995) Evaluation of Chamaecrista rotundifolia accessions as a fodder resource in subhumid Nigeria. Tropical Grasslands, 29, 129-133.
- Tarawali, S.A. and Peters, M. (1996) The potential contribution of selected forage legume pastures to cereal production in crop-livestock farming systems. Journal of Agricultural Science, 127, 175-182.
| -
|
|
Kaitan Internet
|
|
|
|
|