Chloris gayana (Bahasa Indonesia)


Nama latin

Diskripsi tanaman

Berumpun menahun, biasanya membentuk stolon dengan daun 0.5-1.2 m. Bunga biasanya membentuk menjari, terbentuk dari 6-15 kelompok bunga yang mengumpul (seperti tandan) yang menurun atau menyebar sepanjang 4-15 cm. Biasanya 7-10 juta biji/kg meski lebih sedikit untuk cv. Katambora (4 juta biji/kg).

Penggunaan/pemanfaatan

Digunakan pada padang gembala permanen atau padang gembala jangka pendek dan menengah untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kadar bahan organik, dan mengurangi nematoda. Bahan hay yang baik bila dipotong sebelum berbunga. Merupakan hijauan yang cukup baik  ketika tua. Penutup tanah yang baik dan menahan erosi dengan efektif ketika telah tumbuh baik tetapi memerlukan pemangkasan teratur untuk mempertahankan tutupan tanah.

Ekologi

Persyaratan tanah

Tumbuh pada hampir semua tanah yang berpengairan baik, kecuali pada tanah liat berat, asalkan kesuburan tanah memadai. Sangat tahan pada tanah dengan kadar Na yang tinggi (konduktivitas >10 dS/m). Juga tahan dengan kadar Li+ tinggi tetapi tidak Mg++. Tumbuh terbaik pada tanah dengan pH 5,5-7,5 tetapi akan dapat tumbuh pada tanah dengan pH yang ekstrim sampai 4,5 dan 10. Tidak tahan pada tanah dengan kadar mangan (Mg) tinggi.

Air

Biasanya ditanam pada daerah dengan curah hujan 700-1200 mm, tetapi tumbuh dengan baik pada daerah-daerah yang lebih kering. Tidak digunakan bila curah hujan >1800 mm. Digunakan pada padang gembala beririgasi, terutama bila air irigasi mungkin terlalu asin (saline) bagi spesies lain. Daya tahan kekeringan lebih rendah dari Cenchrus ciliaris dan Panicum maximum . Tahan terhadap genangan musiman dan banjir sampai selama 15 hari.

Suhu

Tumbuh dari daerah dekat permukaan laut sampai 2000 m dpl (dari permukaan laut) di daerah tropis, dan sampai >1000 m dpl pada daerah sub tropis. Ditanam pada daerah dengan suhu beragam dan memiliki daya tahan memadai terhadap suhu beku.

Cahaya

Umumnya tidak tahan terhadap naungan.

Perkembangan reproduksi

Diploid (2n = 20) secara umum tidak sensitive terhadap panjang hari dan berbunga sepanjang musim pertumbuhan. Tetraploid dipengaruhi oleh panjang hari yang pendek dengan pembungaan yang intens pada pertengahan April, dan berbunga lagi pada bulan Oktober/Nopember di bagian selatan dunia.

Penggembalaan/pemotongan

Top

Tanaman tumbuh dengan cepat dan dapat digembalai 4-6 bulan setelah tanam. Pertumbuhan dimulai pada musim semi. Karena nilai pakan menurun dengan cepat pada saat pembungaan, sangat penting untuk mempertahankan tanaman tetap berdaun dengan pemotongan yang teratur. Tahan terhadap penggembalaan berat, tetapi produksi akan berkurang apabila terlalu sering dipotong (misalnya 14 hari dibanding 28 hari). Menjadi bahan hay yang baik bila dipotong saat menjelang berbunga.

Agronomi

Penanaman

Diperbanyak secara vegetatif atau dengan biji. Bahan tanam diperoleh dengan memecah rumpun yang besar beserta akarnya atau rumpun kecil dengan stolon. Penanaman biasanya dilakukan dengan jarak 1 m.
Biasanya menghasilkan biji 0,5-1 kg/ha. Biji diploid tidak bersifat dorman setelah panen, sementara biji tetraploid mungkin tidak akan mencapai germinasi (berkecambah) maksimum selama 3-6 bulan (seringkali sampai 18 bulan) setelah panen. Kedalaman tanam sekitar <2 cm pada suatu bedengan yang telah disiapkan dengan baik. Untuk penebaran, biji sebaiknya dicampur dengan pasir.

Spesies pasangan

Rumput: Cenchrus ciliaris , kultivar Panicum maximum yang tumbuh rendah (misalnya Petrie, Gatton), Setaria sphacelata.
Legum: Centrosema pubescens , Clitoria ternatea , Desmodium uncinatum , Neonotonia wightii , Lotononis bainesii , Macroptilium atropurpureum , Medicago sativa , Stylosanthes guianensis, Trifolium repens.

Nilai pakan

Nilai nutrisi

Top

Kadar protein kasar bervariasi seiring umur tanaman dan berkisar dari 17% (berdasar BK) pada daun yang masih muda sampai 3% pada daun tua. Kadar P juga bervariasi seiring umur tanaman dan kadar P tanah, dan berkisar dari 0,4% pada tanaman muda samai 0,1% pada tanaman tua. Demikian pula, Kecernaan Bahan Kering in vitro berkisar dari 40-80%. Kadar Na bervariasi dari 300-3100 ppm, tergantung dari varitas tanaman.

Palatabilitas/kesukaan

Tanaman muda sangat disukai ternak, tetapi kesukaan berkurang ketika tanaman mulai tua. Tanaman tetraploid umumnya lebih cepat siap untuk dimakan ternak dibanding tanaman diploid, terutama ketika tanaman tua.

Potensi produksi

Bahan kering

Produksi BK umumnya berkisar dari kira-kira 2 sampai 10-25 ton/ha, tergantung dari varitas, kesuburan tanah, kondisi lingkungan, dan frekuensi pemotongan. Produksi tahun kedua mungkin dua kali lebih tinggi dibanding masa awal penananman, tetapi ini juga tergantung pada manajemen dan kondisi lingkungan.

Produksi ternak

Dapat menampung sekitar 1-4 ternak/ha tergantung pada produksi padang penggembalaan. Kenaikan berat badan tahunan dapat mencapai 160 kg/ekor dan 850 kg/ha. Produksi ternak akan menurun tanpa tanaman yang subur atau tanpa pemupukan dengan nitrogen.

Produksi biji

Top

Biji diploid dapat menghasilkan sampai 3 panenan setahun sementara biji tetraploid akan menghasilkan 2 panenan per tahun tetapi panen awal biasanya rendah dan mungkin saja tidak layak secara ekonomi. Biji akan masak 23-25 hari setelah berbunga. Biji dapat dipetik dengan tangan dan memerlukan sedikit pembersihan. Kultivar diploid, "Pioneer" dan "Katambora", menghasilkan lebih banyak floret/tahun dan hasil biji lebih banyak dibandingkan dengan cultivar tetraploid, "Callide" dan "Samford". Potensi produksi biji dari kultivar "Callide" adalah sekitar 850 kg/ha. Pada tanaman yang dirawat dengan baik, panen secara mekanis dapat menghasilkan sekitar 100-200 (-300) kg/ha. Biji yang telah masak mungkin memiliki masa dormansi setelah panen (lihat "Penanaman").

Keunggulan

  • Tumbuh pada kondisi beragam.
  • Mudah ditanam.
  • Nilai nutrisi awal.
  • Sangat toleran terhadap garam.
  • Tahan terhadap penggembalaan berat.
  • Sedikit hama atau penyakit yang menyerang.
  • Beberapa spesies dapat menekan nematoda (seperti cv. Katambora).
  • Hasil produksi biii bagus.

Keterbatasan

  • Masa kadar nutrisi tinggi singkat pada beberapa kultivar.
  • Biji yang seperti bulu sulit untuk disemai.
  • Tidak tahan terhadap tanah asam dan tidak subur.
  • Tanaman butuh kesuburan tinggi untuk bertahan hidup.
  • Daya tahan naungan rendah.

Pustaka pilihan

Bogdan, A.V. (1961) Intra variety variation in Rhodes grass (Chloris gayana Kunth.) in Kenya. Journal of the British Grassland Society, 16, 238-239.

Bogdan, A.V. (1969) Review article: Rhodes grass. Herbage Abstracts, 39, 1-13.

Bogdan, A.V. (1977) Tropical Pasture and Fodder Plants (Grasses and Legumes). pp. 77-86. (Longman: London and New York).

Loch, D.S. and Harvey, G.L. (1999) Chloris gayana in Australia. In Loch, D.S. and Ferguson, J.E. (eds) Forage Seed Production Volume 2: Tropical and Subtropical Species. (CAB International, Oxon., UK).

Loch, D.S., Rethman, N.F.G. and van Niekerk, W.A. (2004) Rhodesgrass. In: L.E. Moser, B.L. Burson and L.E. Sollenberger (eds) Warm-Season (C4) Grasses, Agronomy Monograph No. 45. American Society of Agronomy, Crop Science Society of America, Soil Science Society of America, Madison, WI. (in press).

't Mannetje, L. and Kersten, S.M.M. (1992) Chloris gayana Kunth. In: 't Mannetje, L. and Jones, R.M. (eds) Plant Resources of South-East Asia No. 4. Forages. pp. 90-92. (Pudoc Scientific Publishers, Wageningen, the Netherlands).

 

Kaitan Internet