Petunjuk untuk penanaman dan pengelolaan rumput unggul
|
|
Berikut ini adalah keterangan singkat tentang hal-hal penting dan umum yang berhubungan dengan penanaman dan pengelolaan rumput unggul.
|
Biji (Benih)
|
|
1. Varitas yang benar: Pastikan bahwa biji yang akan ditanam adalah benar-benar varitas yang anda ingin tanam. Cara paling baik untuk memastikan hal ini adalah dengan mendapatkan benih (biji) dari sumber yang dapat dipertanggung-jawabkan.
|
|
2. Kualitas biji (benih): Gunakan hanya benih berkualitas tinggi untuk ditanam. Kualitas diukur dalam arti kemurnian dan perkecambahan (germinasi). Bila ada menggunakan benih yang disuplai secara komersial, cobalah untuk memperoleh pernyataan analisis benih terbaru yang anda rencanakan untuk ditanam, kaena pernyataan ini akan memperlihatkan dengan detail hal ini. Kemurnian ditunjukkan dengan persentasi benih yang akan ditanam, benih lain dan gulma, bahan bukan benih (termasuk potongan jerami, tanah dsb.), dan benih yang rusak. Berikan perhatian khusus terhadap benih gulma dalam contoh bahan karena anda tidak ingin mengenalkan (menanam) satu gulma baru yang sungguh-sungguh berpotensi dalam sistem usahatani anda. Analisis juga akan memberikan informasi detail tentang germinasi benih, yang meliputi persentasi benih mampu berkecambah dan benih keras (sulit berkecambah). Bila benih memilki sifat daya tumbuh rendah, misalnya daya tumbuh benih <40% (benih mampu berkecambah + benih dorman (benih keras yang akan berkecambah bila diskarifikasi, atau benih dorman - lihat #3 dibawah), ini menunjukkan daya tumbuh benih rendah, dan akan menyebabkan perkecambahan (germinasi) dan penanaman.
|
|
3. Dormansi: Banyak rumput memiliki sifat dormansi setelah panen, yang berarti germinasi akan meningkat dalam waktu sampai 12 bulan setelah panen, setelah penghalang germinasi dalam glumes telah hilang. Pelepasan yang hati-hati pada spikelet glume dapat mempercepat proses ini, akan tetapi dapat merusak biji bila ditangani dengan penanganan berlebihan.
|
|
4. Kemurnian biji rumput: Bagian yang dimaksud dengan biji pada rumput sebenarnya adalah spikelet yang tersusun atas satu atau lebih floret yang subtended oleh sepasang glumes. Kadang-kadang tidak terdapat caryopsis (benih) yang terbentuk didalam spikelet walaupun biji terlihat sehat. Tingkat glumes yang kosong dapat diperkirakan dari tingkat biji hidup dalam analisis biji.
|
5. Perlakuan biji: - mantel biji (testa) dari legum sering tidak tertembus oleh air, dengan demikian akan memperlambat germinasi. Dikenal sebagai kekerasan biji, akan hilang sedikit demi sedikit dengan perjalanan waktu, memungkinkan biji untuk gerninasi. Hal ini dapat merupakan karakteristik yang berharga untuk memperoleh sebaran germinasi, sehingga mengurangi resiko pertumbuhan biji yang buruk karena kejadian hujan yang sedikit dengan lanjutan kadar air yang buruk. Bila terlalu tinggi, juga akan memberikan pertumbuhan yang buruk langsung setelah ditanam ketika sangat penting bagi spesies yang ditanam berkompetisi dengan gulma yang tumbuh kembali. Tingkat kekerasan biji dapat dihilangkan dengan memecah mantel biji tanpa merusak embrio. Ini bisa diperoleh secara mekanis menggunakan kertas amplas atau metode abrasif lain, secara kimia dengan asam sulfat pekat, atau dengan air panas atau panas kering. Metode berbeda akan lebih sesuai dengan spesies yang berbeda. Yang terbaik adalah memastikan bahwa biji disakrifikasi dengan memadai untuk menghasilkan germinasi 50% pada biji yang memiliki kekerasan biji (dormansi) tinggi.
- Inokulasi: Agar tanaman legum dapat berguna, mereka memerlukan keberadaan satu strain bakteri pengikat nitrogen (rizobium) didalam tanah yang sesuai pada simbiosis yang efektif, dan beberapa legum membutuhkan rizobium yang sangat spesifik bagi legum tersebut. Bila terdapat keraguan tentang keberadaan strain rizobium yang cocok didalam tanah, satu kultur bakteri dapat diberikan, biasanya kepada biji, dalam suatu proses yang disebut inokulasi. Kultur ini biasanya dalam bentuk suatu kultur peat (satu bubuk hitam), tetapi bisa juga dalam bentul kultur slope dalam agar, atau yang sangat jarang, dalam bentuk kultur kering beku. Kultur peat harus tetap dalam keadaan tertutup rapat dan dingin, jauh dari sinar matahari sampai saat digunakan.Idealnya, kultur rizobium dicampurkan dalam suatu bubur bersama satu perekat inert seperti metil selulose dan dicampurkan dengan biji untuk memberikan satu lapisan tipis pada biji. Biji kemudian seharusnya disebar ditempat teduh untuk dikeringkan sebelum ditanam. Biji harus ditanam segera setelah inokulasi. Bila biji dicampur dengan pupuk, dimana hampir semua jenis pupuk akan membunuh rizobium, biji yang telah diberi rizoboium ini harus diselimuti dengan satu lapisan tipis dari bubuk kapur halus (CaCO3) ketika lapisan perekat masih basah, dalam suatu proses yang disebut pelleting. Pada tanah yang sangat asam atau pada tanah lain dimana molybdenum tampaknya dalam jumlah sangat sedikit (defisien), atau bagi spesies dengan kebutuhan Mo yang tinggi seperti Neotonia wightii, molybdenum trioksida (66% Mo) harus masukkan kedalam bubuk kapur untuk mencapai 150 sampai 300g/ha (100-200 g/ha Mo).
|
|
|
Penyiapan lahan
|
|
Tujuan paling utama dalam persiapan lahan adalah untuk memberikan lingkungan yang basah untuk germinasi, dan meminimalisasi persaingan bagi tanaman yang baru tumbuah. Untuk germinasi yang efektif, sangat baik untuk membuat tanah tetap basah disekitar biji, yang dapat diperoleh dengan suatu bedengan yang baik dan padat. Kadang-kadang penanaman tidak mungkin dilakukan disebabkan karena kondisi dataran, tidak dianjurkan karena terhalang potensi terjadinya erosi. Dalam kondisi ini, tetap sangat penting untuk menghilangkan kompetisi dari tanaman yang sudah ada, yang paling bbaik dengan menggunakan herbisida seperti gliposat. Pada daerah yang rentan erosi, mungkin dapat diatur menjauhkan aliran air dari daerah yang ditanami dengan membuat daerah penampungan air, atau membuat teras yang dapat memecah aliran air dan meminimalisasi hilangnya tanah.
|
Penanaman
|
|
Lebih banyak penanaman rumput gagal karena biji ditanam terlalu dalam dibanding terlalu dangkal. Ukuran biji dan tekstur tanah penting dalam menentukan kedalaman tanam - makin kecil biji dan makin berat tanah, smakin dangkal kedalaman tanam. Sementara ada beberapa spesies hijauan dengan biji besar dengan 5000-50.000 biji/kg, sebagian besar hijauan memiliki biji lebih kecil sampai biji sangat kecil (100.000>10 juta biji/kg). Secara umum, biji yang kecil paling baik ditanam sedekat mungkin dengan permukaan tanah, dan biji lebih besar dengan dalam 2-5 cm. Pada daerah yang lebih kering, mungkin merupakan suatu keuntungan untuk ditanam lebih dalam untuk memungkinkan bibit yang sedang berkembang untuk memperoleh simpanan air lebih baik. Akan tetapi, praktik penanaman yang baik adalah dengan menebarkan biji pada permukaan tanah, tutupi sedikit dengan apa yang tersedia, kemudian tekan tanah disekitar biji - paling baik dengan menggunakan rol yang berat, atau aktifitas ternak yang intensif. Menanam dalam baris memiliki keuntungan dalam memudahkan pembersihan gulma dengan tangan, kimia atau mekanis antar baris dari bibit yang sedang bertumbuh.
|
Manajemen Penggembalaan/pemotongan
|
|
Prinsip dasar yang harus diperhatikan adalah sbb:
|
- " Gembalai/potong seteratur mungkin untuk mendapatkan kualitas pakan yang paling tinggi. Nilai pakan menurun dengan cepat seiring umur pertumbuhan kembali, karena peningkatan jumlah lignin pada tanaman. Meskipun interval yang lebih panjang antara penggembalaan/pemotongan mungkin menghasilkan produksi BK yang lebih tinggi, produksi ternak biasanya akan lebih rendah.
- " Senantiasa sisakan bagian daun yang hijau setelah penggembalaan/pemotongan. Kecepatan pertumbuhan kembali secara langsung berhubungan dengan jumlah daun yang tersisa untuk menangkap cahaya dan mendukung fotosintesis. Dengan pemotongan atau penggembalaan yang terlalu parah, terjadi penundaan pertumbuhan aktif, sampai tanaman dapat mengembangkan kembali daun yang memadai untuk mendukung pertrumbuhan.
- " Sangat penting untuk menyisakan jumlah daun yang signifikan pada legum, karena jumlah nitrogen yang diikat dihubungkan dengan area daun yang berfotosintesis pada tanaman. Jumlah nitrogen dalam satu sistem menentukan produktifitas sistem itu.
|
Manajemen kesuburan
|
|
Semua tanaman membutuhkan bermacam-macam nutrisi tanaman untuk pertumbuhan, tetapi bervariasi dalam jumlah untuk setiap zat nutrisi yang mereka butuhkan. Akan tetapi, mereka hanya akan tumbuh sampai tingkatan yang dimungkinkan oleh zat nutrisi pembatas misalnya bila tanah mengandung fosfor yang rendah, penambahan jumlah nitrogen atau zat nutrisi lain tidak akan akan membuat tanaman tumbuh diatas tingkat yang ditentukan oleh jumlah fosfor tersedia bagi tanaman. Tanah bervariasi dalam kemampuan mereka untuk menyuplai nutrisi, dan sehingga perlu untuk mengetahui kesuburan tanah, dan kesuburan yang dibutuhkan oleh varitas tanaman yang ditanam. Analisis kimia terhadap tanah akan menunjukkan indikasi kesuburannya, dan pengetahuan tentang karakteristik tanaman akan membantu dalam menentukan kebutuhan nutrisinya misalnya Bothriochloa spp. biasanya memerlukan N dan P yang sedikit, sementara Panicum spp. secara umum memerlukan N dan P yang tinggi. Secara umum:
|
- - Legum memerlukan P, S dan Mo yang tinggi
- - Rumput memerlukan N dan P yang tinggi, dan juga K untuk bebrapa spesies (misalnya Setaria sphacelate), yang memerlukan banyak sekali zat nutrisi ini
|
|
Defisiensi dari zat nutrisi ini dan zat nutrisi lainnya seringkali dapat diketahui dari adanya gejala-gejala defisiensi seperti daun yang menguning, diskripsi penuh tentang hal ini tersedia di pustaka. Analisis kimia terhadap jaringan juga dapat memberikan indikasi defisiensi, tetapi sangat tergantung pada pengambilan contoh dari phenologi tertentu. Level yang tipikal untuk kebutuhan nutrisi pada penanaman dan pemeliharaan adalah:
|
| | N (kg/ha) | P(kg/ha) | K(kg/ha) | S(kg/ha) | Mo (g/ha) |
| Saat tanam | 0–50 | 20-60 | 50-100 | 0-30 | 100-200 |
| Pemeliharaan tahunan | 50-300 | 10-20 | 25-50 | 30 | 100-200* |
Level nutrisi yang digunakan akan tergantung pada tipe tanah, spesies yang digunakan, level produksi yang diinginkan, dan sistem produksi (sistem potong angkut membutuhkan input pemeliharaan yang lebih besar dibandingkan sistem penggembalaan). *Hanya diberikan setiap 3 tahun, tetapi hati-hati pada tanah defisiensi Cu.
|
Manajemen gulma
|
|
Gulma akan berkompetisi dengan spesies yang ditanam dan mengurangi produktifitas padang gembala. Hal ini dapat sebagai akibat dari persiapan tanah yang tidak memadai atau penggembalaan berlebihan. Bila biji ditanam pada bedengan yang penuh gulma, tanaman gulma yang telah tumbuh mantap terlebih dahulu akan menekan bibit tanaman hijauan yang baru tumbuh. Bila padang gembala digembalai berlebihan, ternak akan memilih spesies yang lebih mereka sukai dan menghindari yang lain, yang akan menyebakan terjadinya penumpukan jumlah spesies yang tidak palatable yaitu gulma. Gulma yang tumbuh pada tanaman dapat dibersihkan dengan tangan, atau disemprot dengan hebisida yang selektif. Herbisida yang tidak selektif seperti gliposat dapat digunakan jika spesies ditanam dalam baris yang jelas. Sementara gulma dalam padang gembala yang sudah mantap dapat juga dikontrol dengan cara yang sama, kontrol yang apling efektif adalah dengan menerapkan manajemen pemotongan yang lebih ringan. Pemotongan tinggi yang berhati-hati juga dapat merupakan cara yang berguna untuk menjaga spesies yang sengaja ditanam, terutama untuk mengontrol gulma tahunan.
|
|
Bacaan lanjutan
|
|
Humphreys, L.R. (1994) Tropical Forages: Their role in sustainable agriculture. Longman Scientific & Technical, Essex, England 414p ISBN 0-582-07868-7
|
|
Roberge, G. and Toutain, B. (eds) (1999) Cultures fourragères tropicales 369p CIRAD ISBN 2-87614-361-5.
|
|
Skerman, P.J., Cameron, D.G. and Riveros, F. (1988) Tropical forage legumes. FAO Plant Production and Protection Series, no. 2, FAO, Rome 832p ISBN 92-5-102190-2.
|
|
Skerman, P.J. and Riveros, F. (1990) Tropical grasses. FAO Plant Production and Protection Series, no. 23, FAO, Rome 832p ISBN 92-5-101128-1.
|
|